
Oleh Yayat Hendayana*
Sebagai bagian dari serangkaian acara “Bandung Mengenang Rendra”, dilakukanlah diskusi dengan tema seperti judul di atas, hari Senin (2/11) yang lalu, di Bale Rumawat Unpad. Diperkirakan, diskusi itu akan membahas bagaimana sebaiknya budayawan memposisikan dirinya dalam zaman yang sedang dilakoninya, agar arus kehidupan mengalir ke arah yang lebih baik. Dengan kata lain, bagaimana budayawan mengendalikan arus zaman. Perkiraan itu meleset. Pembicaraan (masih) berkutat di sekitar pemikiran tentang bagaimana seharusnya budayawan membawakan dirinya agar dapat mengikuti arus zaman. Mengendalikan arus, tentu saja mempunyai konotasi yang berbeda dengan mengikuti arus. Yang pertama bersifat aktif, sedang yang kedua bersifat pasif. Selain pasif, mengikuti arus zaman pun menimbulkan kesan negatif. Pemikiran itu menggiring prilaku budayawan untuk selalu bersikap lolondokan. Kalau begitu halnya, apa istimewanya budayawan dibanding yang lain, yang selalu merubah warna di setiap zaman yang dilakoninya?
Karya-karya Rendra (sajak-sajak dan drama-dramanya) adalah kesaksian tentang kondisi zamannya, yang juga zaman kita. Rendra mencatat kekezaman-kekezaman zaman dan memperdengarkannya kepada dunia justru di saat kita semua bahkan tak berani membuka mulut. “Aku mendengar jerit hewan yang terluka…” kata Rendra dalam salah satu sajaknya. Seperti juga Rendra, kita semua mendengar “jerit hewan yang terluka” itu, tapi kita tak berani mengabarkannya kepada dunia. Kita hanya mampu membisu, karena zaman ketika itu berada dalam genggaman kekuasaan yang represif. Kita tak berani mengambil risiko seperti Rendra, yang bersedia dipenjara karena menyuarakan kesaksian. (more…)