Belantara Kata

March 17, 2011

Sunda, Sehabis “Ngadu Bako”

Filed under: Tentang Kebudayaan

Sudahkah ditemukan langkah-langkah konkret untuk mewujudkan Sunda Jaga (Sunda masa depan) yang jaya? Pertanyaan itu patut diajukan karena akhir-akhir ini perbincangan tentang (kebudayaan) Sunda begitu sering dilakukan. Tak tanggung-tanggung, pembahasan tentang Sunda itu tidak hanya dilakukan oleh orang Sunda saja, melainkan juga oleh orang-orang dari etnis lain, bahkan orang-orang dari luar negeri. Pembahasnya pun bukan pula jalma jore-jore,melainkan para sarjana dan pakar kebudayaan.

Pembicaraan tentang (kebudayaan) Sunda dikemas dalam bentuk seminar, baik bersifat nasional maupun internasional. Penyelenggaranya adalah lmbaga-lembaga yang sangat berwibawa. Di akhir tahun 2010, tepatnya tgl. 25-27 Oktober, di Bogor, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan International Conference on Nature, Philosophy and Culture of Ancient Sunda Civilization 2010. Konferensi internasional itu bertema Reinventing Sunda in Strengthing the National Culture and Promoting Cultural Diversity. Konferensi internasional itu dilengkapi pula dengan Pameran Produk Budaya, Pagelaran Seni Tradisi dan Tinjauan Lapangan ke Kawasan Percandian Situs Batujaya Kabupaten Karawang. Di akhir konferensi internasionali itu semakin menguatlah kebanggaan Urang Sunda pada masa lalunya. Kebanggaan bahwa masa lalu Urang Sunda adalah masa penuh kejayaan. Bahwa di masa lalu, orang Sunda pernah mengalami peradaban sedemikian tingginya. Bahwa dengan demikian berarti, Urang Sunda masa kini bukanlah keturunan jalma jore-jore. (more…)

February 20, 2011

Sunda Menggapai-gapai Masa Depan

Filed under: Tentang Kebudayaan

(HU “PR”, Minggu, 20 Februari 2011 halaman 21)

Oleh Yayat Hendayana

Apakah Sunda masih punya masa depan? Jika ada, bagaimanakah ujud dari masa depan Sunda itu jika keadaannya sekarang sedemikian rupa terpuruknya: tidak produktif, rendah dayasaing, serta lemah dayatekannya. Akibatnya, orang Sunda tidak diperhitungkan baik secara nasional Indonesia, maupun regional Jawa Barat. Celakanya, orang Sunda tidak mempunyai kesadaran kolektif tentang keadaan yang tidak menguntungkan itu. Sebagian (besar) orang Sunda lebih suka melarikan diri dari keterpurukan masa kini itu ke keagungan masa lalu dengan melupakan tantangan nyata yang dihadapi di masa depan. Kondisi itulah yang tampaknya menjadi pendorong Fakultas Sastra Unpad untuk menyelenggarakan Seminar Internasional tentang Reformasi dan Transformasi Kebudayaan Sunda, tgl 9 dan 10 Februari yang lalu, di Jatinangor.
(more…)

September 23, 2010

Instruksi Revolusioner Wali Kota Bandung

Filed under: Bandungku Sayang

Oleh Yayat Hendayana

Malam takbiran. Tengah malam sudah lewat. Tetapi hujan yang mengguyur Bandung selepas Magrib, belum juga mau berhenti, malahan bertambah deras. Angin pun berair. Terbayang, betapa menggigilnya tubuh dan ngilunya tulang-tulang oleh dingin yang menggigit. Tetapi, dalam dingin dini hari yang menggigit itu sebuah mobil masih melaju menyusuri jalanan Kota Bandung, menembus hujan yang semakin deras. Ia tidak bisa meninggalkan kebiasannya, menjelajahi kota setiap malam, ketika sebagian warganya sedang dibuai mimpi-mimpi indah. Dialah Wali Kota Bandung, H. Dada Rosada,S.H.,M.Si. Dialah yang oleh mayoritas warga-kota, tua-muda, disapa dengan panggilan penuh keakraban: Kang Dada.

Seraya menyusuri jalanan Kota Bandung yang berselimut dingin dini hari, diucapkannya asma Allah: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walilahilhamd. Sepenuh hati,tanpa henti. Besok pagi, Idul Fitri. Hari Kemenangan tiba, setelah sebulan menempuh ujian Ramadhan. Tetapi, menghadapi hari yang penuh bahagia itu, mengapa Tuhan menurunkan hujan yang mengguyur Bandung begitu deras?
(more…)

September 8, 2010

Novel Sunda Didominasi oleh Anak Muda

Filed under: Tentang Novel

Oleh Yayat Hendayana

Kelahiran novel dalam kesusastraan Sunda agaknya didorong oleh kebutuhan pengarang untuk mencari bentuk baru dalam berekspresi, setelah bentuk wawacan dianggap tak lagi mampu dijadikan media ungkap. Penulisan dalam bentuk pupuh yang merupakan syarat utama wawacan, tentu saja merupakan beban tidak ringan. Tambahan pula, bentuk wawacan ketika itu dianggap tidak cocok untuk mengisahkan kejadian sehari-hari yang diangkat dari kehidupan manusia zamannya.

Bentuk novel dalam sastra Sunda lebih dulu lahir dibandingkan dengan kesusastraan Indonesia. Novel yang diakui sebagai novel pertama dalam kesusastraan Indonesia, yaitu Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, baru lahir pada tahun 1920, seangkatan dengan kelahiran novel Main Street (“Jalan Utama”) karya Sinclair Lewis di Amerika. Sedangkan Baruang ka nu Ngarora (“Racun bagi Kaum Muda”) karya DK Ardiwinata, lahir enam tahun sebelumnya, yaitu tahun 1914, seangkatan dengan kelahiran novel The Titan karya Theodore Draiser di Amerika.

(more…)

September 7, 2010

Tak Ada Proklamasi dalam Novel Sunda

Filed under: Tentang Novel

Oleh Yayat Hendayana

Tak syak lagi, Proklamasi Kemerdekaan merupakan peristiwa teramat penting dalam sejarah kebangsaan dan kenegaraan kita. Masuk akal apabila peristiwa penting itu didokumentasikan dalam berbagai bentuk tertulis, tak terkecuali dalam bentuk karya sastra.Tetapi, merujuk Abdullah Mustappa (Lima Abad Sastra Sunda, 2000), jangan harap kita akan menemukan rekaman peristiwa penting itu dalam novel-novel Sunda. Tak ada proklamasi dalam novel Sunda.
Parapengarang novel Sunda membiarkan peristiwa penting itu berlalu begitu saja.Padahal peristiwa itu adalah peristiwa nasional yang berdampak secara nasional pula, termasuk etnis Sunda di dalamnya. Apakah justru karena peristiwa itu bersifat nasionallah yang membuat para pengarang novel sunda tidak tertarik untuk merekamnya dalam karya-karya mereka? Sebab, terhadap peristiwa yang bersifat lokal Jawa Barat, peristiwa DI/TII misalnya, para pengarang novel Sunda terkesan antusias untuk merekamnya ke dalam karya-karya mereka. Novel-novel Sunda yang mempunyai kaitan dengan peristiwaDI/TII tidak sulit untuk dicari. Jauh berbeda dengan novel-novel Sunda yang ada kaitannya dengan proklamasi kemerdekaan.
(more…)

Setia Permana, Seminggu Sebelumnya

Filed under: Profil Tokoh

Oleh Yayat Hendayana

Diskusi telah lama berakhir, tapi kami masih terlibat dalam sebuah percakapan yang serius. Masih di seputar tema yang menjadi topik diskusi, yaitu “Apa yangTelah, Sedang dan Akan Dilakukan oleh Anggota DPR-RI Asal Jawa Barat bagi Kepentingan Jawa Barat”. Tak menyangka sedikit pun bahwa percakapan itu merupakan percakapan terakhir antara kami dengan dia, Setia Permana. Ia berpulang, tepat seminggu kemudian. Sebuah kecelakaan diBunaken telah merenggut nyawanya. Kapal yang ditumpanginya hancur berantakan diterjang ombak sekitar pukul 11.45 Wita.

Seminggu sebelumnya, pada jam yang sama, ia berada di tengah-tengah kami, berdiskusi. Setia Permana adalah motor penggerak diskusi itu. Tanpa dia, hampir tak mungkin diskusi akan berlangsung. Setia Permanalah yang dihubungi pertama kali oleh Mimbar Diskusi Bandung (MDB) untuk penyelenggaraan diskusi itu. Ia pun menyambutnya dengan penuh antusias. Ia pulalah yang kemudian menghubungi para anggota DPR-RI asal Jawa Barat dari semua fraksi yang ada di DPR-RI untuk berupaya hadir dalam diskusi hari Sabtu,31 Juli 2010, yang diselenggarakan di Rumah Makan “Ayam Seuhah” Jl. Asia-Afrika Bandung itu. Berkat upayanyalah diskusi itu mampu menghadirkan pembicara yang mewakili fraksi Demokrat, PKS, PDIP, PPP dan PKB serta beberapa orang anggotaDPR-RI asal Jawa Barat dari PAN dan Gerindra.

Dikusi itu berlangsung hangat. Peserta diskusi menjadi tahu bahwa para anggota DPR-RI asal Jawa barat ternyata telah memperjuangkan banyak hal untuk kepentingan Jawa Barat. Jika selama ini banyakyang tidak tahu, persoalannya terletak pada kurangnya komunikasi antara parawakil rakyat itu dengan rakyatnya. Itulah sebabnya diskusi itu mengerucut pada pentingnya membangun kekuatan secara penuh (powerful) dari para anggota DPR-RI asal Jawa Barat agar suaranya bergema di tingkat nasional. Diskusi itu merumuskan tentang pentingnya pembentukan Kaukus Jabar sebagai wadah lintas-fraksi dari para para anggota DPR-RI asal Jawa Barat. Sedangkan tentang sosialisasi kegiatan, diskusi merumuskan perlunya media cetak
khusus yang diupayakan penerbitannya oleh Kaukus Jabar itu. Dikusi juga menyepakati pentingnya pertemuan antara para anggota DR-RI asal Jawa Barat dengan perwakilan konstituen dari masing-masing dapil dalam sebuah forum diskusi.
(more…)

March 31, 2010

Pernah Jadi Terdakwa

Filed under: Fokus

Yayat Hendayana (62) terduduk pasrah di kursi pesakitan sambil memegang sebuah buku karangannya. Ia diseret ke ruang pengadilan yang tak lazim. Kursi hakim, jaksa, dan pembela berwarna merah. Sedangkan meja-mejanya berbalut hitam. Di pintu masuk, tertulis ”Rohangan Pengadilan Puisi”.

Para hakim, jaksa, dan pembela tidak mengenakan jubah kebesaran warna hitam dan berdasi putih. Tetapi, mereka berbusana sekenanya. Ada yang berkemeja bahkan boleh mengenakan kaus, celana jins, dan kepala dibungkus syal.Inilah cara budayawan dan sastrawan Tatar Sunda, Jawa Barat, membuat ”pengadilan tandingan”. Mereka menciptakan format teatrikal dengan menjadikan acara bedah buku sastra dalam setting pengadilan, di panggung Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang, Bandung, Jumat pekan lalu. (more…)

March 4, 2010

Puisi Kuring…

Filed under: Fokus

January 20, 2010

Doa

Filed under: Puisi 1.1.1

Yayat Hendayana

Keabadian
‘kan kutulis pujian
isilah pulpenku
dengan tinta-Mu

Keagungan
kan kumohon ampunan
celup lidahku
dengan liur-Mu

Dalam Sadar

Filed under: Puisi 1.1.1

Yayat Hendayana

Istriku
aku pernah lupa wajahmu

Anakku
aku pernah lupa umurmu

Diriku
aku pernah lupa tempatmu

Tuhanku
tambahkan itu ke dalam dosa-dosaku