Belantara Kata

November 19, 2009

Di Era Informasi Kita Benci Informasi

Filed under: Puisi III

Yayat Hendayana

Di era informasi kita benci informasi
yang ditulis suratkabar dan ditayangkan teltevisi
Karena berita yang dihidangkan
seperti menu masakan Padang
pedas di tenggorokan membakar perut dan perasaan

Halaman-halaman koran menimbulkan api
di jari-jari tangan karena berita-berita perampokan
perkosaan dan pembunuhan
karena perdebatan kaum politisi
tentang persoalan yang tak berarti
sekali-kali bicara perkara tinggi
sangat dangkal argumentasi

Di antara iklan-iklan yang melelahkan air-liur
kepenasaran terselip pernyataan-pernyataan
para pakar dan orang-orang akademisi
tentang tatacara mengurus negeri
dengan pendekatan yang semata-mata teori
karena wilayah kehidupan mereka
hanya seluas halaman kampus

(more…)

Xena dan Sinbad

Filed under: Puisi III

Yayat Hendayana

Haruskah dihadirkan seorang perempuan
seperkasa Xena untuk tugas daratan
dan seorang anak muda secerdik Sinbad
untuk tugas di lautan
guna menumpas kejahatan
di negeri yang sedang kita dongengkan

Karena para ksatria yang konon jagoan
dengan jurus-jurus mematikan
tak berkutik menghadapi para pejabat
yang lebih piawai mengolah kiat
memilih titik-titik lemah
menotok aliran darah

(more…)

Suatu Ketika Antarmanula

Filed under: Puisi III

Yayat Hendayana

Apalagi yang menarik dibicarakan, dalam usia
setua kita, ketika berbincang di saat senggang
Tentang cucu yang menggerutu karena kesulitan
menemukan rambut hitam di antara uban. Atau
anak-anak yang semakin jarang berkunjung
Lantaran begitu sibuk dipermainkan bayangan
digoda impian bersinar seperti sosok di sinetron
di iklan-iklan yang membujuk tanpa kebajikan

Kita gali peninggalan dari sekian dasawarsa
yang membatu di gua-gua kenangan. Catatan
kenakalan, petualangan dan sejumlah perempuan
sukacita masa lalu membuat kita terpingkal-pingkal
hingga gigi-palsu nyaris tanggal. Jangan alihkan
obrolan ke masakini yang pelik, tekanan darah
bisa naik. Sekedar butuh silet cukur kita perlu
kalkulator untuk menghitung kurs dollar

(more…)

November 18, 2009

Bergegaslah anak-anakku

Filed under: Puisi III

Yayat Hendayana

Bergegaslah ke musholla, anak-anakku
gelarkan sajadah yang melipat
arahkan ke kiblat
adzan telah bergema
subuh menunggu ibadahmu

Jangan turuti ayahmu
yang selalu terlambat wudhu
yang belajar bertaqwa
baru di usia senja

Betapa jauh perjalanan
menuju ke pangkuan Tuhan
maka melangkahlah
lebih awal, anak-anakku
agar tak tergesa-gesa di ujung usia
pada saat kesadaran tiba
melangkahlah sejak dini
agar lebih tenang dan hati-hati

(more…)

November 16, 2009

Lereng

Filed under: Puisi III

Yayat Hendayana

Setelah payah mendaki
langkah tiba-tiba terhenti di lereng curam
di ketinggian yang masih jauh ke puncak
Langit menghimpit dengan kegelapan yang pekat
udara memanas satwa-satwa beringas
hutan mencekam

Eratkan pegangan tangan, ujar seruan
tapi angin membadai rantai cerai-berai
kebersamaan jadi asing keakuan lebih penting

Bisa apakah kita ketika jeritan di hadapan
melengking dan menyayat
sebuah tubuh terkoyak
bisa apakah kita sementara kita tercabik
duri-duri beracun
Bisa apakah kita ketika orang melolong-lolong
karena terperosok ke jurang
bisa apakah kita sementara kita menggelantung
di tebingnya yang rapuh

(more…)

Kelam Tengah Malam

Filed under: Puisi II

Yayat Hendayana

bulan mengubur diri
dalam kelam berduri
listrik mati sejak magrib
gerimis runcing
sempurnakan sepi

beri aku sebiji korek api
ada sebatang lilin di sini!

November 12, 2009

Kehidupan

Filed under: Puisi 1.1

Yayat Hendayana

Kehidupan adalah laut yang dalam
gelombang mendaki tebing-tebing curam
jadilah ikan padanya, yang tak mengeluh
walau badai mengamuk

Kehidupan adalah hutan belukar
matahari tersangkut di pucuk pohon-pohonan
jadilah burung-burung liar
bersarang di puncak-puncak

Kehidupan adalah gelembung-gelembung buih sabun
sebuah mainan anak, berputaran dan melambung-lambung
jadilah angin, yang paling halus pun akan meniup-niup
dan memecahkannya dengan jari-jarinya yang kecil

Kehidupan adalah anugerah terbesar
atau pembantaian paling kasar
peliharalah o, setiap hati yang berkiblat Kebenaran
jangan berpaling tetaplah pada-Nya

Oktober 965

Dari Lubuk Hati Kaum Tani

Filed under: Puisi I

Yayat Hendayana

Kami punya cangkul di sudut rumah
dan tekad di tiap dada
keduanya terbuat dari baja

Sediakan bagi kami sebidang tanah
cadas-cadas terjal atau bukit batu
dengan cangkul kami, jadilah sawah
haramkan kalau tak subur

Serahkan pada kami tanah terkering
tiap tetes keringat sanggup mengubahnya jadi lumpur
Tapi jangan beri kami gunung emas di atas kertas
tangan kami hanya akan menganggapnya sebuah mainan dusta

Pantangkan tekad luntur dan cangkul menumpul
tak kami biarkan keringat dan bau lumpur
hanya mewangi yang lain saja

Nopember 1965

Malam Bersama Keluarga

Filed under: Puisi I

Yayat Hendayana

bila malam tiba
kami cerita tentang derita
tentang kebahagiaan yang tak merata
serta duka yang tiada penyelesaian
sejak nenek dan kakek berdampingan

bila malam tiba
kami bicara tentang harga
yang beratnya menekan tulang-tulang iga
dan jalan kehidupan yang makin tak mau lurus
karena leluhurnya salah urus

dalam kehidupan yang serba sukar
kadang-kadang kami masih bisa kelakar
tentang ubi pahit pengisi perut lapar
atau gagasan nasi jagung yang belum mau menyebar

bila makin malam tingi
dan kepahitan telah sembunyi di sepi-sepi hati
masing-masing berbaring di dipan tua
berkawan bantal yang tak tentu warna

Mei 1963

November 9, 2009

Budayawan di Tengah Arus Zaman

Filed under: Tentang Kebudayaan

Oleh Yayat Hendayana*

Sebagai bagian dari serangkaian acara “Bandung Mengenang Rendra”, dilakukanlah diskusi dengan tema seperti judul di atas, hari Senin (2/11) yang lalu, di Bale Rumawat Unpad. Diperkirakan, diskusi itu akan membahas bagaimana sebaiknya budayawan memposisikan dirinya dalam zaman yang sedang dilakoninya, agar arus kehidupan mengalir ke arah yang lebih baik. Dengan kata lain, bagaimana budayawan mengendalikan arus zaman. Perkiraan itu meleset. Pembicaraan (masih) berkutat di sekitar pemikiran tentang bagaimana seharusnya budayawan membawakan dirinya agar dapat mengikuti arus zaman. Mengendalikan arus, tentu saja mempunyai konotasi yang berbeda dengan mengikuti arus. Yang pertama bersifat aktif, sedang yang kedua bersifat pasif. Selain pasif, mengikuti arus zaman pun menimbulkan kesan negatif. Pemikiran itu menggiring prilaku budayawan untuk selalu bersikap lolondokan. Kalau begitu halnya, apa istimewanya budayawan dibanding yang lain, yang selalu merubah warna di setiap zaman yang dilakoninya?
Karya-karya Rendra (sajak-sajak dan drama-dramanya) adalah kesaksian tentang kondisi zamannya, yang juga zaman kita. Rendra mencatat kekezaman-kekezaman zaman dan memperdengarkannya kepada dunia justru di saat kita semua bahkan tak berani membuka mulut. “Aku mendengar jerit hewan yang terluka…” kata Rendra dalam salah satu sajaknya. Seperti juga Rendra, kita semua mendengar “jerit hewan yang terluka” itu, tapi kita tak berani mengabarkannya kepada dunia. Kita hanya mampu membisu, karena zaman ketika itu berada dalam genggaman kekuasaan yang represif. Kita tak berani mengambil risiko seperti Rendra, yang bersedia dipenjara karena menyuarakan kesaksian. (more…)